Opini Audit Going Concern

opini audit going concern

Opini Audit Going Concern

Pengertian Going Concern

Sebelum membahas mengenai opini audit going concern, pertama kita pelajari pengertian Going Concern. Menurut Standar Profesional Akuntan Publik SA Seksi 341 mendefinisikan going concern adalah kesangsian kemampuan suatu usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama periode waktu yang pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan. Sedangkan, menurut Suwardjono going concern adalah suatu dalil yang menyatakan bahwa kesatuan usaha akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab serta aktifitas-aktifitasnya yang tidak berhenti. Sehingga going concern merupakan konsep kelangsungan hidup suatu perusahaan untuk mempertahankan keberadaan entitas atas bisnisnya. Salah satu tugas dari seorang auditor salah satunya adalah memberikan opini audit going concern.

Kondisi dan peristiwa yang dialami oleh suatu perusahaan dapat memberikan indikasi kelangsungan usaha (going concern) perusahaan, seperti kerugian operasi yang signifikan dan berlangsung secara terus menerus sehingga menimbulkan keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan. Menurut PSA No.30 menyatakan bahwa going concern dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan. Biasanya informasi yang secara signifikan berlawanan dengan asumsi kelangsungan suatu badan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktivitas kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain.

Baca Juga: Penyelesaian Audit Untuk Penerbitan Laporan Audit

Pengertian Opini Audit Going Concern

Opini audit going concern merupakan pendapat audit modifikasi yang diberikan auditor bila terdapat keraguan atas kemampuan going concern  perusahaan dalam melakukan kegiatannya dalam kurun waktu yang pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan. Opini audit yang termasuk opini audit going concern yaitu pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas, pendapat wajar dengan pengecualian, pendapat tidak wajar, dan tidak memberikan pendapat. Sehingga auditor menetapkan penerimaan opini audit going concern apabila dalam proses audit ditemukan kondisi dan peristiwa yang menggarah pada kesangsian terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Berikut ini adalah contoh kondisi dan peristiwa yang mengarah pada kesangsian atas kelangsungan hidup perusahaan:

  1. Trend negative. Sebagai contoh, kerugian operasi yang berulang kali terjadi, kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan usaha, rasio keuangan penting yang jelek.
  2. Petunjuk lain tentang kemungkinan kesulitan keuangan. Sebagai contoh, kegagalan dalam memenuhi kewajiban utangnya atau perjanjian serupa, penunggakan pembayaran deviden, penolakan oleh pemasok terhadap pengajuan permintaan pembelian kredit biasa, restrukturisasi utang, kebutuhan untuk mencari sumber atau metode pendanaan baru, atau penjualan sebagian besar asset.
  3. Masalah intern. Sebagai contoh, pemogokan kerja atau kesulitan hubungan perburuhan yang lain, ketergantungan besar atas sukses proyek tertentu, komitmen jangka panjang yang tidak bersifat ekonomis, kebutuhan untuk secara signifikan memperbaiki operasi.
  4. Masalah luar yang terjadi. Sebagai contoh, pengaduan gugatan pengadilan, keluarnya undang-undang, atau masalah-masalah lain yang kemungkinan membahayakan kemampuan entitas untuk beroperasi; kehilangan franchise, lisensi atau paten penting; kehilangan pelanggan atau pemasok utama, kerugian akibat bencana besar seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, yang tidak diasuransikan atau diasuransikan namun dengan pertanggungan yang tidak memadai.

Baca Juga: 5 Jenis Opini Audit Atas Laporan Keuangan

Beberapa faktor yang menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan adalah:

  1. Kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal kerja.
  2. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban pada saat jatuh tempo dalam jangka pendek.
  3. Kehilangan pelanggan utama, terjadi bencana yang tidak diasuransikan, seperti gempa bumi atau banjir atau permasalahan perburuhan yang tidak jelas.
  4. Perkara pengadilan, gugatan hukum atau masalah serupa yang sudah terjadi yang dapat membahayakan kemampuan perusahaan untuk beroperasi.

Dalam SA Seksi 341 (SPAP, 2011) menyatakan apabila auditor tidak mengsangsikan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dalam jangka waktu pantas, maka auditor memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian. Bila kesangsian terhadap kelangsungan hidup usaha benar-benar ada, maka auditor harus mempertimbangkan untuk mengeluarkan opini audit going concern. SA Seksi 341, SPA No. 30 (SPAP, 2011) memuat pertimbangan bagi auditor dalam menerbitkan opini audit going concern terhadap kelangsungan usaha suatu entitas. Menurut SPAP tersebut opini audit yang termasuk dalam opini going concern (GC) yaitu pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (unqualified opinion with explanation language), pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), pendapat tidak wajar (adverse opinion), dan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion).

Baca Juga: Pengertian Opini Audit dan Jenis Opini Audit

Apabila auditor mengsangsikan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, maka auditor wajib mengevaluasi rencana manajemen. Selanjutnya auditor akan memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas jika rencana manajemen perusahaan dapat secara efektif dilaksanakan untuk mengatasi dampak dari kondisi dan peristiwa yang menyebabkan kesangsian auditor tentang kelangsungan usahanya. Apabila auditor menggangap bahwa rencana manajemen tidak dapat secara efektif mengurangi dampak negatif kondisi atau peristiwa tersebut maka auditor menyatakan tidak memberikan pendapat.

Opini wajar dengan pengecualian diberikan kepada auditee apabila auditor mengsangsikan kelangsungan hidup perusahaan dan auditor berkesimpulan bahwa manajemen tidak memuat pengungkapan mengenai sifat, dampak, kondisi dan peristiwa yang menyebabkan auditor mengsangsikan kelangsungan hidup perusahaan. Jika pengungkapan didalam rencana manajemen tidak memadai pengungkapanya dan tidak dilakukan penyesuaian, padahal dampaknya sangat material dan dapat menyimpang dari prinsip akuntansi berterima umum, maka auditor akan memberikan opini tidak wajar (Pratiwi, 2013).

Baca Juga: Tipe Audit Yang Dilakukan Oleh Akuntan Publik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here