Pengertian Etika Bisnis, Peran Etika Bisnis, Prinsip Etika Bisnis

1
155

Pengertian Etika Bisnis

Sebelum kita membahas konsep etika dalam bisnis, terlebih dahulu kita perlu memahami tiga aspek pokok dalam bisnis diantaranya:

  1. Sudut Pandang Ekonomis

Dalam sudut pandang ekonomis, bisnis adalah kegiatan ekonomis, dimana terjadi proses tukar menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkerjakan dan interaksi manusia lainnya, dengan tujuannya memperoleh keuntungan. Dalam pandangan ini, bisnis yang baik adalah bisnis yang membawa banyak keuntungan. Hal ini bisa terjemahkan ke dalam beberapa fungsi manajemen. Dalam fungsi manajemen produksi, bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat mempertahankan produktivitas perusahaan. Dimana jika produktivitas menurun, biaya produksi akan bertambah, sehingga harga produk perlu dinaikkan, dan hal ini berdampak pada harga produk bisa menjadi terlalu tinggi dibandingkan dengan harga yang ditetapkan pesaing. Pada fungsi pemasaran, diartikan sebagai menjual sebanyak mungkin produk, dimana hal ini akan membawa keuntungan maksimal bagi perusahaan

2. Sudut Pandang Moral

Dalam sudut pandang moral, bisnis yang baik adalah bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik dalam konteks moral adalah perilaku yang sesuai dengan norma norma moral, sedangkan perilaku yang buruk adalah perilaku yang bertentangan dengan atau menyimpang dari norma moral. Perilaku dalam konteksi ini adalah tindakan dan kegiatan yang dilakukan dalam bisnis, baik itu keputusan bisnis, kebijakan yang diambil dan interaksi bisnis dengan lingkungannya. Dalam kasus di atas, bisnis boleh saja memiiliki tujuan mencapai keuntungan, asalkan pencapainya tidak merugikan pihak yang lain serta dilakukan dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain yang terlibat baik langsung dan tidak langsung dalam aktivitas bisnis itu sendiri.

3. Sudut Pandang Hukum

Bisnis tidak terlepas dari hukum “ hukum dagang” atau “ hukum bisnis”. Dalam sudut pandang normative, hukum menetapkan apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan pada aktivitas bisnis. Disini, hukum lebih jelas dan pasti, karena tertulis dan ada sangsi tertentu bila terjadi pelanggaran. Dari sudut pandang hukum, bisnis yang baik adalah bisnis yang patuh pada hukum.

4. Sudut Pandang Moral

Untuk menentukan baik tidaknya bisnis dari sudut pandang moral, perlu adanya tolak ukur dalam menentukan baik buruknya suatu perbuatan dan tingkah laku di setiap aktivitas bisnis, diantaranya: hati nurani, kaidah emas dan penilaian masyarakat umum. Penjelasannya sebagai berikut:

  • Hati nurani

Suatu perbuatan dan tingkah laku yang baik, jika dilakukan sesuai dengan hati nurani, begitu juga sebaliknya. Hati nurani memiliki arti, kita harus melakukan apa yang diperintahkan hati nurani dan tidak boleh melakukan apa yang berlawanan dengan suara hati nurani. Setiap manusia memiliki hati nurani dimana bagi yang memiliki agama suara hati nurani adalah bisikan tuhan. Hati nurani sifatnya subyektif, karena hanya bisa dijawab oleh orang yang bersangkutan, dan hati nurani bisa dipakai sebagai pegangan kalau terbentuk dengan baik.

  • Kaidah Emas

Menurut kaidah emas, perilaku yang baik adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Maksudnya, jika kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka terlebih dahulu perlakukanlah orang tersebut dengan baik ( konsep take and give). Kaidah emas bersifat objektif

  • Penilaian Umum 

Untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku, cara ketiga adalah dengan menyerahkan kepada masyarakat umum untuk menilainya. Disebut dengan “ audit social”. Namun, penilaian ini harus bersifat objektif ( tidak ada kepentingan di dalamnya) dan terbuka bagi khalayak ramai dengan menerapkan penilaian moral di dalamnya.

Dari hasil catatan di atas dapat disimpulkan bahwa bisnis dikatakan baik (good business) jika tidak bertentangan dengan sudut pandang etika dan hukum.

Baca Juga: Dilema Etika dalam Etika Bisnis

Etika bisnis

Arti etika dapat dibedakan dari sisi  praktis dan refleksi. Etika sebagai praktis yaitu sejauhmana nilai-nilai dan norma-norma moral diterapkan dan dilaksanakan dalam berbagai aktivitas dan kegiatan sehari hari. Atau dapat juga di artikan sebagai apa yang dilakukan sesuai dengan nilai dan moral. Etika sebagai praktis berarti moral atau moralitas: apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan , pantas dilakukan dan sebagainya. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral, dimana kita berfikir tentang apa yang dilakukan lebih spesifik yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku orang. 

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa etika adalah cabang ilmu falsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku manusia ( selaku orang yang menjalankan aktivitas bisnis di perusahaan).etika bisnis dapat dijalankan pada tiga tingkat yaitu makro, meso dan mikro. Pada tingkat makro, etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari system ekonomi sebagai keseluruhan. Disini masalah etika disorot pada skala besar. Misalnya: masalah keadilan social masyarakat, terutama berkaitan dengan kaum buruh; masalah utang Negara, kekayaan Negara dan sebagainya. Pada tingkat madya (meso), etika bisnis menyelidiki masalah etis di bidang organisasi dalam hal ini perusahaan, dan stakeholder yang  berkaitan langsung dengan aktivitas bisnis di perusahaan seperti lembaga konsumen, pemasok (supplier), investor, pemerintah, lembaga sosial seperti sarikat pekerja, dan sebagainya. Sedangkakan pada tingkat mikro, etika bisnis difokuskan pada individu dalam hubungannya dengan ekonomi dan bisnis. Dalam hal ini dipelajari tentang tanggung jawab etis dari karyawan dan atasan, produsen dan konsumen, pemasok dan investor.

Peran Etika dalam Bisnis

Etika berfungsi menggugah kesadaran moral pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik dan etis didasari nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi konsumen, masyarakat dan demi menjaga nama baik bisnis sendiri dalam jangka panjang. Etika bisnis menjadi acuan bagi pebisnis untuk berbisnis tanpa merugikan konsumen, buruh, karyawan, dan masyarakat luas. Hak dan kepentingan mereka tidak boleh diabaikan oleh praktek bisnis. Praktek praktek monopoli, oligopoli, kolusi dan sejenisnya menjurus pada kerugian konsumen, masyarakat serta Negara menjadi obyek bagi etika bisnis untuk dilakukan perbaikan semestinya.

Alasan bisnis berlaku etis ada tiga dasar yang mendasarinya yaitu ajaran agama (tuhan yang maha kuasa), kepentingan sosial dan perilaku pebisnis yang bernilai utama.

  1. Ajaran Agama (tuhan yang maha kuasa)

Agama mengatakan bahwa sesudah kehidupan jasmani ini manusia akan hidup terus dalam dunia baka, di mana Tuhan sebagai Hakim Maha Agung akan menghukum kejahatan yang pernah dilakukan dan mengganjar kebaikannya. Pandangan ini didasarkan pada imam kepercayaan, yang tentunya diharapkan setiap pebisnis akan dibimbing oleh iman kepercayaannya yang menjadi tugas agama mengajak pemeluknya untuk tetap berpegang pada motivasi moral.

2. Kontrak Sosial

Segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang pebisnis akan selalu berhubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, maka pebisnis dalam interaksi bisnisnya memiliki kontrak sosial dengan masyarakat tempat dimana ia berbisnis untuk selalu menciptakan kesejahteraan dalam kegiatan bisnisnya. Pandangan ini melihat perilaku manusia dalam perspektif sosial. Setiap kegiatan dilakukan bersama-sama dalam masyarakat, menuntut adanya norma-norma dan nilai-nilai moral. Dengan demikian kehidupan kemasyarakatan senantiasa menjadi lebih sejahtera. 

3. Keutamaan 

Pebisnis sebagai manusia memiliki nilai mulia dan utama bila melaksanakan bisnisnya secara bermoral. Keutamaan sebagai ukuran untuk melakukan bisnis terbaik, merupakan penyempurnaan tertinggi kodrat manusia. Manusia yang berlaku etis adalah baik, baik secara menyeluruh materil dan spirituil. 

Pebisnis harus melakukan sesuatu kebaikan, karena hal itu baik. Pebisnis harus berintegritas. Dalam bekerja, pebisnis boleh mencari keuntungan. Perusahaan merupakan organisasi sebagai alat untuk memperoleh keuntungan. Namun pebisnis atau perusahaan dikatakan tidak berintegritas, jika kegiatan mereka mengumpulkan kekayaan tanpa pertimbangan moral.

Kode etik perusahaan

kode etik

Sebelum kita mengupas dan membahas mengenai kode etik perusahaan, terlebih dahulu kita memahami istilah umum yaitu ethics statements diantaranya:

  1. Pertama,  value statements atau pernyataan nilai.

Banyak pernyataan nilai menegaskan bahwa perusahaan ingin beroperasi secara etis serta fair dan menggaris bawwahi pentingnya integritas, teamwork, kredibilitas, dan keterbukaan dalam komunikasi. Jadi nilai yang dikemukakan ini sering lebih luas daripada nilai-nilai etis.

2. Kedua, Corporate Credo atau kredo perusahaan

Biasanya merumuskan tanggung jawab perusahaan terhadap para stakeholder, khususnya konsumen, karyawan, pemilik saham, masyarakat umum dan lingkungan hidup

3. Kode etik

Kode etik ini menyangkut kebijakan etis perusahaan berhubungan dengan kesulitas yang bisa timbul (dan mungkin dimasa lampau pernah timbul), seperti konflik kepentingan, hubungan dengan pesaing dan pemasok, menerima hadiah, sumbangan kepada partai politik dan sebagainya.

Manfaat kode etik perusahaan adalah sebagai berikut:

  1. Dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan sebagai corporate culture. Dengan adanya kode etik, secara intern semua karyawan terikat dalam standar etis yang sama, sehingga akan mengambil keputusan yang sama pula untuk kasus-kasus yang sejenis. Sedangkan secara eksternal, para stakeholder lainnya seperti pemasok dan konsumen memaklumi apa yang bisa diharapkan dari perusahaan. Reputasi yang baik di bidang etika merupakan asset yang amat penting bagi suatu perusahaan.
  2. Dapat membantu dalam menghilangkan grey area. Beberapa ambiguitas moral yang sering merongrong kinerja perusahaan, dengan demikian dapat dihindarkan. Contohnya menerima hadiah atau komisi, kesungguhan perusahaan dalam memberantas memakai tenaga kerja anak di bawah umur, dan keterlibatan perusahaan dalam melindungi lingkungan hidup.
  3. Kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya. 
  4. Kode etik menyediakan bagi perusahaan dalam dunia bisnis untuk mengatur dirinya sendiri, dengan demikian Negara tidak perlu ikut campur tangan.

Baca Juga: Harmonisasi Akuntansi Internasional

Prinsip- prinsip Etika Bisnis

Menurut Sonny Keraf (1998), prinsip- prinsip etika bisnis adalah sebagai berikut:

  1. Prinsip Otonomi 

Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan tuntunan hati nuraninya, kesadarannya sendiri mengenai sesuatu kebaikan untuk diberian kepada orang lain. 

2. Prinsip Kejujuran 

Prinsip kejujuran dalam setiap tindakan atau perikatan bisnis merupakan keutamaan. Kejujuran diperlukan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam perikatan perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak saling percaya satu sama lain, bahwa masing-masing pihak tulus dan jujur membuat perjanjian dan kontrak, serius, tulus dan jujur melaksanakan perjanjian. Kejujuran sangat penting artinya bagi kepentingan masing-masing pihak, kejujuran sangat menentukan keberlanjutan relasi dan kelangsungan bisnis selanjutnya. 

3. Prinsip Keadilan

Tindakan memberikan keadilan terhadap keterlibatan semua pihak dalam bisnis merupakan praktek keutamaan. Prinsip keadilan perlu dilakukan agar setiap orang dalam kegiataan bisnis secara internal maupun eksternal perusahaan diperlakukan sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing. 

4. Prinsip Saling Menguntungkan 

Kegiatan bisnis perlu memberikan keadaan saling menguntungkan kepada keterlibatan setiap pihak dalam bisnis, hal tersebut merupakan cerminan prinsip keutamaan. Saling menguntungkan merupakan cermin integritas moral internal pelaku bisnis atau perusahaan agar nama baik pribadi atau nama baik perusahaan untuk berbisnis tetap terjaga, dipercaya dan kompetitif.

GOOD ETHICS GOOD BUSINESS 

Kebanyakan perusahaan pencapai sukses merupakan perusahaan yang memiliki nilai etika pelaksanaan pekerjaan tinggi. Hal tersebut bisa terjadi karena disaat diterapkan nilai etika bisnis tinggi, maka konsumen atau masyarakat lainnya merasa puas sehingga dilain kesempatan mereka bersedia mengikat perikatan bisnis dengan perusahaan tersebut, dengan demikian bisnis perusahaan beretika tinggi tersebut terus berkembang. Yang baik harus dilakukan karena hal itu baik, bukan hanya karena membuka jalan menuju sukses. Peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip keutamaan di zaman Aristoteles. Namun mungkin etika bisnis hanya bisa berlaku intensif dalam suatu komunitas masyarakat moral. Moralitas bukan merupakan komitmen individual, namun berlaku dalam suatu jangkauan kerangka sistim sosial.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here