Definisi Etika Bisnis, Tujuan dan Prinsipnya Dalam Pandangan Islam

definisi dan tujuan etika bisnis dalam islam

Etika Bisnis Dalam Islam

Etika bisnis dalam Islam dan tujuan etika bisnis islami pada dasarnya memiliki makna yang hampir sama dengan etika bisnis pada umumnya, yaitu bagaimana seorang pelaku usaha menjalankan usahanya sesuai dengan norma yang berlaku, yang membedakan dengan definisi etika bisnis dalam Islam penentuan baik dan buruknya berdasarkan perspektif dari Al-Quran dan Hadist.

Definisi Etika Bisnis Dalam Pandangan Islam

Etika bisnis Islam merupakan nilai-nilai etika Islam dalam aktivitas bisnis yang telah disajikan dari perspektif Al-Qur’an dan Dadits, yang bertumpu pada enam prinsip, yaitu; kebenaran, kepercayaan, ketulusan, persaudaraan, pengetahuan, dan keadilan.
Tidak hanya itu, keenam prinsip tersebut merupakan harga mutlak

dalam menjalankan usaha bisnis.

Dengan berpegang terhadap keenamnya maka bisnis yang dijalankan tentu akan menghantarkan pada perjalanan bisnis dalam rel kebenaran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 29 yang menganjurkan untuk menggunakan caracara yang bijak dalam etika berbisnis.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Tujuan Umum Etika Bisnis Islami

Dalam hal ini, etika bisnis Islam adalah merupakan hal yang penting dalam perjalanan sebuah aktivitas bisnis profesional. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Syahata, bahwa tujuan etika bisnis Islami mempunyai fungsi substansial yang membekali para pelaku bisnis, beberapa hal sebagai berikut:

  1. Membangun kode etik islami yang mengatur, mengembangkan dan menancapkan metode berbisnis dalam kerangka ajaran agama. Kode etik ini juga menjadi simbol arahan agar melindungi pelaku bisnis dari risiko.
  2. Kode ini dapat menjadi dasar hukum dalam menetapkan tanggungjawab para pelaku bisnis, terutama bagi diri mereka sendiri, antara komunitas bisnis, masyarakat, dan diatas segalanya adalah tanggungjawab di hadapan Allah SWT.
  3. Kode etik ini dipersepsi sebagai dokumen hukum yang dapat menyelesaikan persoalan yang muncul, daripada harus diserahkan kepada pihak peradilan.
  4. Kode etik dapat memberi kontribusi dalam penyelesaian banyak persoalan yang terjadi
    antara
    sesama pelaku bisnis dan masyarakat tempat mereka bekerja. Sebuah hal yang dapat membangun persaudaraan (ukhuwah) dan kerja sama antara mereka semua.

Prinsip-prinsip Etika Bisnis Dalam Al-Quran

Ada lima dasar prinsip dalam etika Islam, yaitu: kesatuan (unity), keseimbangan (equilibrium), kehendak bebas (free will), taggung jawab (responsibility), kebenaran, kebajikan, dan kejujuran (truth, goodness, honesty).

  • Kesatuan (Tauhid/Unity)
    Dalam hal ini adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Dari konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis menjadi terpadu, vertikal maupun horisontal, membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.
  • Keseimbangan (Equilibrium/Adil)
    Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan. Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi. Kecurangan dalam berbisnis pertanda
    kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan.
    Dalam surah al Isra ayat 35 Allah SWT berfirman yang artinya : Dan sempurnakanlah
    takaran
    apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang

    lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Dalam beraktivitas di dunia kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 8 yang artinya :  Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah SWT, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.Berlaku adillah karena adil lebih dekat dengan takwa.
  • Kehendak Bebas (Free Will)
    Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya. Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.
  • Tanggungjawab (Responsibility)
    Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.
  • Kebenaran: kebajikan dan kejujuran (truth, goodness, honesty)
    Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan. Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islam sangat menjaga dan berlaku preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang melakukan transaksi, kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here